Rania Puspitasari
Kumpulan Foto
Selasa, 31 Agustus 2010
yang terpendam
Suasana malam ini sangat tenang. Langit gelap, dan kota ini hanya diterangi oleh cahaya lampu, dingin karna sejak siang tadi hujan menghujam Jakarta. Seakan mengerti keadaanku. Dan yang pasti, aku bisa menjadi diri sendiri saat malam. Hanya duduk di dalam mobil BMW hitam ku sambil mendengarkan lagu-lagu klasik dan berkendara mengitari Jakarta. Bukan, aku bukanlah superhero kacangan atau juga pelacur yang hanya keluar waktu malam. Aku juga bukan banci kaleng atau waria yang memanfaatkan minimnya penglihatan jarak jauh pada malam hari untuk memperdaya lelaki hidung belang yang mencari kesenangan satu malam. Aku hanya manusia biasa, lelaki normal. Lantas kenapa aku sangat mencintai waktu malam? Karna aku introvert. Saat matahari menguasai bumi bagianku, aku tidak ada. Meskipun aku duduk disamping kalian, aku tidak ada. Meskipun aku lebih pintar dari kalian, aku tidak ada. Dan mungkin jika aku bertubuh tinggi besar, memakai kostum badut yang paling mencolok sekalipun, kalian juga tidak menganggapku ada. Hanya karna aku introvert. Ya, aku tahu. Dunia ini di dominasi oleh manusia-manusia yang dianggap “biasa” jika mereka mampu berkomunikasi dengan baik, jika mereka mampu mencapai puncak popularitas dalam lingkup sosialnya. Jika mereka mampu berbicara dengan lancar di depan wanita. Tidak seperti yang aku lakukan sore tadi di kampus. Irene namanya. Awalnya aku hanya ingin memberitahu dia tentang tugas yang diberikan dosen linguistik kami siang tadi. Di fakultasku, sastra inggris, hampir semua mahasiswa-mahasiswi memilih literatur sebagai penjurusannya, sisanya memilih translation dan sangat sedikit yang mengambil linguistik. Dan tahun ini, hanya aku dan Irene. Sore tadi, moment itu, sangat memalukan buatku. Saat aku hendak bertolak dari kampus menuju rumah, aku melihat Irene di kantin depan fakultasku. Dia memakai tank top putih dan blue jeans, dan memakai sepatu converse berwarna krem model velcro. Rambutnya yang panjang, hitam, dan tebal itu dihiasi oleh bando berbentuk tanduk setan berwarna merah menyala. Itulah Irene, sangat menggoda. Aku berjalan menghampirinya, dan semakin dekat jarakku dengannya, semakin cepat jantungku berdetak. Ya, aku menyukai Irene. Dia disana. Sekitar 6 atau 7 langkah lagi. Duduk di bangku pojok kantin, yang terdekat dengan pintu keluar samping, ditemani oleh beberapa cowok “berkuasa” dikampus. “hi, Irene.” Jarakku hanya satu meter dengannya. “ya. kenapa Ndy?” Dug.. Dug.. Dug.. “nggak, aku cuma mo kasi tau, ada tugas linguistik yang harus dikumpulin 2 minggu lagi.” “oh, ok! Makasi ya Ndy.” Dug.. Dug.. Dug.. Cuma itu jawabannya? Jantungku sudah semakin cepat berdetak karna gugup untuknya dan hanya itu responnya. “umh, Sandy. Kalo emang nggak ada lagi yang mau di omongin, kamu bisa pergi kok.” Irene meneruskan. Saat aku mulai memutar badan menuju parkiran mobil, dia memanggilku. “Ndy!” “ya?” Dug.. Dug.. Dug.. “resleting kamu. Kebuka.” Dan meledaklah tawa kaum extrovert atas ke-cupu-an seorang kaum introvert. Dan karna itulah aku perlu melakukan hal ini, malam ini. Sekarang sudah jam 3.45 dini hari, dan aku sedang di atas fly over ANTAM ketika aku melihat sesosok perempuan sedang berdiri di bagian paling atas jalan itu sambil merokok. Memakai sweater berlogo LIVERPOOL merah dan celana pendek berwarna khaki. Disampingnya, sebuah motor VARIO setia menemaninya. Dia Irene. Karna cukup cepat aku melaju, terpaksa aku berhenti cukup jauh dari tempatnya berdiri. Hampir di ujung jalan tersebut. Dengan hanya memakai kaos lengan panjang bertuliskan SUNDAY BALLERS dan jeans pendek butut aku berjalan mengampirinya. Tidak seperti sore tadi, jantungku berdetak biasa saja. Tidak bertambah cepat. Mungkin malam menularkan ketenangannya padaku. Atau karna saat ini, Irene terlihat biasa saja, kurang menggoda. Dari jarak 5 meter aku bisa melihat Irene menghisap dalam-dalam rokoknya, dan kemudian menghembuskan asap putih dari mulut mungilnya. Sepertinya dia tidak menyadari kedatanganku. Mungkin dia juga sedang menikmati malam ini. 4 meter.. 3 meter.. 2 meter.. Dan aku mendengarnya bicara. Bukan padaku. Karna dia masih tidak sadar aku sudah cukup dekat dengannya. Samar-samar aku dapat mendengar apa yang dia bicarakan. Lancang memang jika aku menguping obrolan orang lain, tapi Irene tidak mengobrol. Dia berbicara pada dirinya sendiri. “lo tuh bodoh banget sih Irene! Ngapain juga tadi sore gw ketus banget sama Sandy? Dia itu baik, pinter lagi. Meskipun agak cupu. Tapi ya, gw suka sama dia. Tapi kenapa sore tadi gw itu bodoh banget. Kenapa gw deg-degan ya pas tau dia jalan ke arah gw? Masa sih gw nervous banget. Tapi sekarang pasti dia malu banget dan marah sama gw.” Irene menghisap rokoknya lagi, dan menghembuskannya. Di malam yang tenang, jujur, dan menyenangkan itu, aku tersenyum.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar