Rania Puspitasari
Kumpulan Foto
Selasa, 31 Agustus 2010
Cinta Terlarang
Padang rumput yang indah hari ini diterangi sinar mentari yang boleh dibilang malu-malu, tidak terlalu terik, tapi cukup untuk menyinari seisi padang itu. Bunga-bungaan tampak tersenyum senang menyambut mentari pagi. Begitulah setiap paginya Sirens menyambut paginya, yah Sirens, seorang malaikat yang bertugas di surga bunga. Sirens melihat langit, mengecek tanda-tanda kedatangan Marie, sahabat baiknya yang selalu menjenguknya setiap 2 hari sekali. Marie dan Sirens akan bermain, menyanyi, dan menari bersama kupu-kupu, kebiasaan favorit mereka. Hari itu juga tak luput, secercak awan meruak bersinar ketika Marie memasuki surge Sirens, The Fairyland, begitu Sirens menamai dunianya. Sirens menyambut Marie dan mereka pun melangkah ke padang bunga lily untuk terbang melayang mengikuti iringan harpa yang dibawa Marie, sang malaikat music. Tanpa disadari mereka berdua, Andromeda, salah satu devil dari Underworld mengintip di celah perbatasan The Fairy Land dengan Underworld. Hari itu Andromeda bertekad mengambil batu malaikat yang terkalungkan di leher setiap malaikat. Ia telah ditugaskan Evian, salah satu penguasa Underworld untuk mengumpulkan batu-batu malaikat yang memiliki energy murni yang dapat membuat devil semakin kuat. Jalan satu-satunya adalah membunuh malaikat karena energy dalam batu malaikat itulah yang merupakan energy kehidupan bagi setiap malaikat. Andromeda terus mengamati Sirens dan Marie. Ia terpesona pada tarian mereka yang indah. Ia tersadar untuk cepat melaksanakan misinya. Tapi matanya terus terpaku pada seorang malaikat yang menari di hadapannya. “Siapa malaikat itu?” Andromeda bertanya dalam hati. “Ia begitu mempesona. Matanya begitu teduh, senyumnya yang lembut dan tulus, gerakan tubuhnya yang mengalun bersama music indah, kupu-kupu pun terus menempel ke rambut panjangnya yang berkilau.” Tanpa disadari, hati dingin milik Andromeda yang telah beku selama ribuan tahun tergerak. “Sirens! Aku pergi dulu ya,2 hari lagi kita bersenang-senang lagi yah. Ciao Bella”. Malaikat satunya berteriak pada malaikat yang sedaang diamati Andromeda selama berjam-jam. “ Ooh Sirens.. Namanya Sirens, sangat indah, sesuai dengan dirinya” Pelan-pelan Andromeda mengucap pada dirinya. Tanpa disadarinya, sebentuk senyum tersungging di wajahnya. Seperginya Marie, Sirens masih tetap asik menari bersama kupu-kupu lain. Ketika ia mendengar patahan ranting, Sirens tersentak dan menoleh. Ooh Sirens melihat Andromeda yang tak hati-hati memijak ranting. Andromeda yang teringat misinya segera medekati Sirens. “Hello Sirens. Perkenalkan aku Andromeda. Ijinkan aku memiliki kalungmu” Sirens yang ketakutan langsung berlari kembali ke pondok bunganya. Ia harus mengambil pecahan kaca Malaikat Sinar yang dapat menghalau devil untuk menyerangnya. Tapi Andromeda lebih cepat, dalam sekejab ia telah terbang ke depan Sirens untuk merampas kalungnya. Sirens sangat ketakutan, jika kalung miliknya diambil, maka hilang juga lah hidupnya. Dalam keadaan terdesak, kalung Sirens bersinar sangat kuat tepat ketika Andromeda menyentuh kalung tersebut. Andromeda terkejut akan reaksi kalung tersebut, bahkan energi sinar kalung tersebut akhirnya melukainya hingga ia tak sadarkan diri. Andromeda perlahan membuka matanya, pertama yang dilihatnya adalah atap sebuah pondok yang dipenuhi bunga-bunga. Ia menoleh ke samping,mengamati seluruh pondok. Dalam hatinya bertanya-tanya, dan ketika ia berusaha bangun, ia tak bisa menggerakkan kakinya, bahkan tubuhnya penuh luka. Saking sakitnya, ia kembali tak sadarkan diri. Ketika ia tersadar lagi, ia mendengar suara nyanyian merdu. Siapa itu, dalam hatinya berpikir, dan dari celah jendela, ia melihat Sirens. Sirens, malaikat yang ingin dibunuhnya, tampak sedang menumbuk daun-daunan dan ketika siap ia masuk ke dalam. Andromeda berpura-pura masih pingsan, ia ingin tahu apa yang dilakukan Sirens. Sirens yang masuk mendekati Andromeda, ia membalut luka-luka Andromeda dengan daun-daunan tersebut. Tes! Andromeda merasakan setetes air di kakinya. Ia mengintip sedikit dan mendapati Siren sedang berlinang air mata. Kenapa dia menangis. Andromeda bertanya dalam hati. “Sirens!” Andromeda memanggil lirih. Sirens yang sedang menangis tersentak. Ia mundur beberapa langkah. Mereka berdua saling bertatapan. “Maaf! Aku tak tahu kalau kalungku bisa mencelakakan kamu sampai begini. Maaf! Maaf!” ujar Sirens pelan. Kebingungan menyelimuti Andromeda. Ia melihat sekujur tubuhnya, luka di sana sini. Ternyata ia terluka parah ketika menyerang Sirens. Tapii..Kenapa ia begitu baik padaku. Jelas-jelas aku ingin membunuhnya. Kenapa? Kenapa?” Andromeda begitu bimbang. **** Hari-berganti hari, minggu berganti minggu. Sirens terus merawat Andromeda hingga sembuh. Pagi itu, Andromeda sedang duduk di rumput basah mengamati Sirens yang sedang merawat bunga-bungaan. Marie sudah tidak pernah datang sejak terakhir Andromeda melihatnya. Sirens mengatakan ada badai di langit yang mengakibatkan para malaikat harus berdiam di tanahnya masing-masing. Sirens terus bernyanyi sambil menebarkan bubuk bunga ke padang, sesekali ia menari berputar-putar. Andromeda teus mengamati Sirens, ia memegang dadanya, ada apa dengan aku, ia bertanya dalam hati. Kenapa aku merasakan sesuatu yang sesak di dadaku beberapa minggu ini. Seperti perasaan yang membuncah ketika ia melihat Sirens. Apakah ini cinta? Apakah ia telah jatuh cinta? Hanya 1 jawaban yang didapatnya, ya, dia telah jatuh cinta. Jatuh cinta kepada seorang malaikat. Cinta yang terlarang. Cinta yang seharusnya tak ada pada dirinya karena ia telah lama merasakan tak memiliki hati. Apakah hatinya yang telah beku selama hidupnya kini perlahan mencair karena seorang Sirens. Apakah ia telah tersentuh begitu dalam akan seorang Sirens? Sepertinya memang begitulah jawaban yang ia dapat. Pelan-pelan ia mendekati Sirens, ia akan menyatakan cintanya.**** Sudah sebulan mereka bersama. Cinta yang telah tumbuh di antara mereka semakin bersemi, laksana mentari pagi yang hangat, bagaikan bunga-bunga yang mekar di antara padang hijau. Begitu indah dan murni. Saling melengkapi satu sama lain. Bahkan senyuman sekarang tidak menjadi sesuatu yang asing bagi Andromeda. Kini kebahagiaan bukanlah sesuatu yang tabu baginya. Ia begitu bahagia, dalam ribuan tahun kehidupannya, saat-saat ini lah yang paling berarti baginya. Saat dimana ia kembali memiliki hatinya yang telah lama hilang. Apakah kebahagiaan dari cinta terlarang ini dapat bertahan selamanya? Jawabannya datang bersama dengan kedatangan Marie bersama The Lady of Heaven yang dating mengunjunginya setelah badai berlalu. Awan yang menyeruak secara tiba-tiba mengagetkan Sirens dan Andromeda yang sedang bercengkerama. Keterkejutan mereka tidak lama, ketika The Lady of Heaven menyadari sesosok devil sedang bersama dengan malaikatnya. Ia murka, dan menyorotkan kaca utama Malaikat Sinar ke arah Andromeda. Ia akan memusnahkan devil itu saai ini juga. Saat sinar itu hampir mengenai tubuh Andromeda, Sirens melompat ke depan Andromeda, menghalangi kekasih hatinya dari hujaman sinar penghancur. “Tidakkkk….” Andromeda sangat terkejut ketika Sirens yang melindunginya, perlahan-lahan berubah menjadi sinar. Ia menghilang sepenuhnya di hadapan Andromeda setelah mengatakan “Pergi sekarang juga! Aku akan selalu mencintaimu Andromeda”. Dalam saat terakhirnya, ia mendorong Andromeda ke celah antara 2 dunia, mendorongnya kembali ke Underworld. Andromeda terjatuh dalam keterpanaan, ketidakpercayaan bahwa Sirens telah tiada.**** Beberapa hari berlalu sejak kepergian Sirens. Andromeda kembali ke The Fairyland. Ia telah duduk berhari-hari di sana. Hidupnya hampa, hatinya yang pernah datang kini kembali pergi, hilang tak berbekas bersama menghilangnya Sirens. Tangannya terus memegang dadanya. Apakah rasa sakit ini? Sakit yang tak tertahankan, sakit yang membuatnya hampir tak bisa bernafas. Ia tertunduk sedih ke rerumputan ketika ada langkah-langkah kaki yang membuatnya menoleh secepat kilat. Apakah Sirens telah kembali? Ternyata yang di hadapannya adalah Marie. Pandangan Marie yang penuh dendam menghunjam Andromeda. “ Kau lihat apa yang kau perbuat pada sahabatku? Kau menghancurkannya. Kau membunuhnya. Kau lihat rumput dan bunga di sini telah layu sepenuhnya. Ia tidak akan pernah kembali.” Dilemparkannya kalung milik Sirens yang telah kehilangan sinarnya. Andromeda memungutnya, mengusap batu tersebut. Perlahan tangannya basah, ada air yang menetes dari matanya. Ia, sesosok devil yang telah beku hatinya, menangis.“Kau menangis? Kau, devil, dapat menangis?” dan dikeluarkannya pecahan kaca Malaikat SInar dari sakunya. “ Kau akan kubunuh. Akan kubinasakan dengan tanganku sendiri!” Dibuangnya pecahan kaca tersebut dan dicekiknya Andromeda dalam pembalasan dendam yang kuat. Andromeda tak melawan, ia hanya menggenggam erat kalung Sirens, seakan merasakan Sirens bersamanya saat itu. Ketika nyawa terakhir hampir hilang dari tubuhnya, Andromeda memejamkan matanya, berharap dapat kembali ke sisi Sirens, bersama-sama kembali, merasakan kembali kebahagiaan. Marie telah membunuhnya. Ia telah membunuh Andromeda dengan tangannya sendiri. Perlahan air mata mengalir di pipinya. Sayapnya yang putih mulai berubah menjadi hitam. Kalung kehidupannya bersinar dari putih ke hitam. Ya, Marie berubah menjadi devil. Ia seorang malaikat yang dengan sadarnya melakukan dosa, menggunakan tubuhnya untuk melakukan pembunuhan, menggunakan hatinya untuk dikotori dengan pembalasan dendam. Marie telah berdosa. Ia tidak lagi murni untuk menjadi malaikat. Ia tersenyum sedih. “Ini pantas kudapat, untuk menebus nyawa Sirens, sahabatku”. Dan perlahan ia terbang ke bawah, ke Underworld, tempatnya yang baru dan untuk selama sisa hidupnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar